Struick: Timnas Indonesia Masih Dipandang Sebagai Tim ‘Underdog’
Dalam dunia sepak bola, istilah “underdog” merujuk pada tim yang dianggap memiliki peluang kecil untuk menang dalam suatu pertandingan. Di Asia Tenggara, Tim Nasional (Timnas) Indonesia sering kali menghadapi stigma sebagai tim ‘underdog’, terutama dalam kompetisi internasional. Pelatih asal Belanda, Pieter Huistra Struick, berbicara tentang bagaimana pandangan ini terbentuk dan bagaimana Timnas Indonesia dapat membalikkan stigma tersebut.
Perjalanan Timnas Indonesia
Timnas Indonesia telah mengalami perjalanan yang berliku dalam sejarah sepak bolanya. Meskipun memiliki pemain berbakat dan basis pendukung yang besar, prestasi di tingkat internasional sering kali tidak sebanding dengan ekspektasi. Kelemahan dalam manajemen, kurangnya dukungan infrastruktur, dan ketidakkonsistenan dalam pelaksanaan program pengembangan pemain menjadi beberapa faktor penyebab ketidakstabilan ini.
Struick, yang memiliki pengalaman melatih di berbagai belahan dunia, mengamati bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi besar, faktor budaya dan mentalitas seringkali menghalangi perkembangan tim. “Banyak pemain Indonesia memiliki skill individu yang luar biasa, tetapi ketika bermain di level internasional, sering kali tekanan itu menjadi terlalu besar,” ujarnya.
Aspek Mental dalam Sepak Bola
Mentalitas pemain adalah salah satu aspek yang ditekankan oleh Struick. Ia percaya bahwa untuk mengubah pandangan sebagai tim ‘underdog’, Timnas Indonesia perlu membangun mental juara. Artinya, para pemain harus percaya pada kemampuan mereka dan mampu menghadapi tekanan besar, terutama saat melawan tim-tim yang lebih diunggulkan.
“Tim underdog bisa mengejutkan siapa pun jika pemainnya percaya bahwa mereka mampu menang. Yang terpenting adalah menghadirkan mental yang positif di setiap pertandingan, meskipun statistik dan sejarah mungkin tidak mendukung,” jelas Struick.
Peluang dan Tantangan
Meskipun pandangan sebagai tim ‘underdog’ tetap ada, Struick optimis bahwa dengan pendekatan yang tepat, Timnas Indonesia dapat mengubah stigma tersebut. Adanya generasi baru pemain yang lebih terdidik dan terlatih memberi harapan bahwa Indonesia bisa bersaing dengan yang terbaik di Asia.
Namun, tantangan tetap ada. Sistem kompetisi, dukungan fasilitas latihan, serta pendidikan dan pengembangan untuk pelatih dan perangkat latihan adalah hal-hal yang perlu diperbaiki. “Kami perlu membuat investasi jangka panjang untuk pengembangan pemain muda dan membangun ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan sepak bola di Indonesia,” ungkapnya.
Harapan dan Kesimpulan
Sebagai pelatih, Struick memiliki visi untuk menjadikan Timnas Indonesia lebih dari sekadar tim ‘underdog’. Ia berharap melalui kerja keras, dedikasi, dan perubahan pada mentalitas tim, Indonesia dapat menghasilkan prestasi yang lebih baik di kancah internasional.
“Ketika rakyat Indonesia bersatu di belakang tim, dan ketika pemain dapat bermain tanpa rasa takut, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak sukses,” tegas Struick.
Perjalanan menuju pengakuan yang lebih besar di dunia sepak bola bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan semangat dan komitmen yang kuat, Timnas Indonesia memiliki potensi untuk menjelma dari tim ‘underdog’ menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan.